Video Terkini

Polling Website

Apa Merk Laptop anda ?

Artikel Terakhir

Calendar

« Nov 2017 »
M S S R K J S
29 30 31 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 1 2
3 4 5 6 7 8 9

Statistik Website

mod_mod_visitcounterVisitors Online38
mod_mod_visitcounterHits4281651
mod_mod_visitcounterToday176
mod_mod_visitcounterYesterday2786
mod_mod_visitcounterThis week63735
mod_mod_visitcounterThis month156961
mod_mod_visitcounterAll days822533

Om Telolet Om Lebih Bagus Ketimbang Bikin Rusuh Medsos

Om Telolet Om Lebih Bagus Ketimbang Bikin Rusuh MedsosOm Telolet Om Lebih Bagus Ketimbang Bikin Rusuh Medsos

Media sosial (Medsos) sebaiknya dipakai untuk meningkatkan kualitas demokrasi Indonesia. Bahkan seharusnya, medsos bisa meredam isu suku agama ras dan antargolongan (SARA) pada momen seperti Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

"Kami tegaskan agar media alternatif seperti medsos tidak digunakan untuk hal-hal yang mengurangi kualitas Pilkada serentak seperti memainkan isu SARA, fitnah dan lain-lain," ujar Komisioner KPU Pusat Ferry Kurnia Rizkiyansyah, di Aula Dewan Pers, Jakarta (23/12/2016).

Itu sebabnya, menurut Ferry, akun-akun medsos tim sukses para kandidat Pilkada wajib didaftarkan. Prinsipnya, kampanye di medsos sama dengan di dunia nyata. Dengan demikian, kampanye di medsos tetap harus mengedepankan kampanye dialogis dan pendidikan politik.

Direktur Eksekutif Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi Hariqo Wibawa Satria mengatakan, setidaknya ada enam hal yang bisa meredam isu SARA saat Pilkada. Pertama, meredam itu bisa diartikan mencegah potensi ribut. Jangan sampai pesta demokrasi jadi pestanya para penghina.

"Belajarlah dari pak Jokowi dan Jusuf Kalla, pak Prabowo dan Hatta Rajasa saat Pilpres 2014, keduanya tidak menghina SARA. Sehingga sepanas apapun debat di medsos, Pilpres 2014 tetap aman. Bagi saya Pilpres Indonesia 2014 lebih hebat dari Pilpres Amerika 2016, Donald Trump jangan ditiru," sebutnya.

Kedua, term of use saat seseorang membuat akun medsos harus diubah dalam format tanya jawab. Contoh, 'jika kami memberikan akun Twitter ini, Anda berjanji tidak melakukan fitnah?' Pemerintah harus memaksa pemilik Twitter, Facebook, Instagram dan Google untuk 'mempersulit' seseorang mendapatkan akun medsos.

Ketiga, harus diingat bahwa Pilkada serentak adalah pesta demokrasi yang penuh kegembiraan. Timses sebaiknya membuat konten-konten yang menginspirasi, menyenangkan dan menjadikan semua orang tersenyum bahkan tertawa.

"Misalnya, buatlah parodi dengan mengubah 'Om Telolet Om' yang sedang menjadi fenomena menjadi 'Om Nyoblos Om' atau 'Om Jangan Fitnah Om' dan hal-hal kreatif lainnya. Karena Pilkada serentak adalah perang kreatifitas dalam membuat konten," sarannya.

Hariqo juga mengingatkan agar tim sukses para kandidat jangan hanya pidato atau monolog tentang hebatnya kandidatnya di medsos. Mereka bisa lebih interaktif dengan meminta saran dan kritik masyarakat tentang calon mereka.

Keempat, jangan sampai menyebarkan konten yang menguntungkan salah satu calon, tapi merugikan kepentingan nasional. "Larangan menghina SARA dan fitnah bukan hanya saat Pilkada, tapi sampai kapanpun tidak boleh," tegas Hariqo.

Kelima, jangan hanya melarang, namun ajak masyarakat membuat konten internet sehat, misalnya dengan mengadakan lomba-lomba foto, video, dan lain-lain. Poin terakhir, perlu diingat bahwa agar Pilkada berlangsung sukses adalah dengan mengedepankan integritas.

"Medsos bisa menghimpun partisipasi, namun juga bisa merusak partisipasi. Karenanya, penyelenggara, peserta dan pemilihnya harus berintegritas," sebutnya.

Dalam diskusi tersebut, pengamat media Agus Sudibyo juga menjelaskan bahwa medsos seperti Twitter, Facebook dan Google harus diingatkan agar tidak menyebarkan konten-konten SARA yang bisa memicu ketegangan di masyarakat.

"Google, Facebook, Twitter, Instagram, bukan semata medsos. Mereka semakin populer jika link-linknya disebarkan, iklannya bertambah, namun mereka tidak bertanggung jawab terhadap kegaduhan yang terjadi di masyarakat setelahnya. Satu hal lagi, jangan sampai media mainstream menjadi follower medsos. Harus benar-benar dicek akun yang dikutip," jelasnya.

Tak kalah penting, seperti diungkapkan narasumber lainnya Bambang Sulistyo, pengguna medsos harus benar-benar hati-hati dalam berpendapat dan menyampaikan informasi di akun mereka. (rns/yud)

Sumber : detik.com

Berita Terkait : Berita Terkini